Metrotvnews.com, Jakarta: Masalah energi listrik di Tanah Air sebenarnya tidak seberapa rumit.

Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Hanya saja, orang-orang yang memiliki kuasa dan kepentingan di negeri ini yang menyebabkannya menjadi rumit seperti tidak ada jalan keluarnya.

Polemik pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebenarnya dapat diselesaikan dengan satu semangat dan niat bersama. Nilai-nilai tersebut setidaknya sudah dibuktikan oleh masyarakat Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Semangat warga Desa Kamanggih untuk menghadirkan cahaya lampu di luar daya listrik dari PLN berhasil mematahkan mitos ketergantungan warga terhadap perusahaan negara itu. Anggapan sebagian besar pihak bahwa tidak ada potensi EBT di kawasan mereka juga kandas.

Penolakan dari bupati pada 2000 silam tidak menyurutkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mbakuhau berdiri kukuh. Alkisah pada 2011 waktu itu warga melihat potensi air yang mengalir dari hutan Labundung yang melewati lereng gunung bisa menggerakkan turbin pembangkit listrik meskipun menurut survei PLN setempat tidak ada potensi energi di situ.

Setelah digarap bersama-sama dan dibantu pihak terkait, proyek PLTMH Mbakuhau berhasil dibangun. Lokasinya yang berjarak lebih dari 5 kilometer dari pusat Desa Kamanggih tersebut dapat menghasilkan listrik hingga 300 kW per hari dengan memanfaatkan debit air yang melimpah. Pada dua tahun pertamanya, listrik PLTMH Mbakuhau hanya dikonsumsi 350 rumah warga.

“Pada awalnya warga tidak paham listik dan hanya menjadi konsumen. Hingga kami saat ini mengatur semuanya mulai dari perawatan mikro hidro hingga iuran pemakaian listrik,” ucap Ketua Koperasi Jasa Peduli Kasih Umbu Hinggi Panjanji saat ditemui rombongan jurnalis bersama Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI), Selasa (25/10).

Melalui koperasi warga Desa Kamanggih kini mengatur sendiri setiap konsumsi listrik dan biaya yang mereka keluarkan. Semuanya, pada akhirnya dikembalikan menjadi biaya perawatan PLTMH Mbakuhau, mulai dari pelumas hingga biaya operator.

Manajerial tersebut tidak datang begitu saja. Masyarakat Desa Kamanggih mendapat bimbingan khusus dari LSM HiVOS yang ditunjuk MCA Indonesia.

“Masalah dari EBT ini kan keberlanjutan, makanya kami persiapkan warga sebaik mungkin dan mem-bawakan konsultan agar mereka paham manajerial,” ucap Field Project Manager Sumba Iconic Island Hivos Southeast Asia, Welhelmus Poek.

Jadi penjual

Sumba sendiri merupakan pulau unik. Matahari terik yang terjadi sepanjang tahun, serta angin kencang merupakan potensi bagi EBT. Itu sebabnya, terdapat proyek Nasional Sumba Iconic Island (SII) yang menjadikan Sumba kawasan percontohan pengembangan EBT.

Menurut rencana, pada 2020, Sumba berhasrat agar 100% EBT diterapkan. Hingga Agustus 2015, rasio kelistrikan di sana mencapai 43%, yang 10%-nya menggunakan EBT yang menghasilkan listrik hingga 4,87 mw.

“Minimal pada 2020, kami targetkan Sumba 95% EBT dan 5%-nya dari energi konvensional,” ucap Welhelmus. (Media Indonesia)

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/energi/zNAGx23k-wujudkan-ebt-dengan-modal-semangat