Metro TV  27 Oktober 2016 

Ilustrasi. (FOTO: MI/Bagus Suryo)

Ilustrasi. (FOTO: MI/Bagus Suryo)

Wajah Theopilus Tamu Ama, 24, tampak serius. Dia sedang berkonsentrasi tinggi mencatat deretan angka yang muncul di panel instrumen penerjemah arus listrik yang dihasilkan dari turbin dan generator yang digerakkan arus air.

Dengan lancar, Theopilus menjelaskan prinsip kerja dari barang-barang yang berada di Power House bagian dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Mbakuhau, Kemanggih, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

“Jadi dari bendungan di atas, kita buka arusnya sampai ke turbin dan akhirnya menghasilkan listrik di generator ini. Tiap listrik yang dihasilkan akan muncul angkanya di panel ini dan saya mencatat itu tiap hari,” ungkap Theopilus dalam logat timurnya yang khas saat ditemui Media Indonesia, Selasa, 25 Oktober lalu.

Meski demikian, tidak ada yang menyangka pria yang akrab disapa Theo tersebut tidak memiliki latar belakang teknik kelistrikan.

Semua pengetahuan tersebut dimilikinya sejak pembangunan PLTMH (salah satu sumber energi baru terbarukan) yang dilakukan pada 2011 lalu menunjuk dirinya sebagai operator. Pada awalnya Theo mendapat bimbingan dari Hivos sebagai NGO pendamping.

Sejak listrik dari PLTMH Mbakuhau terinterkoneksi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) wilayah Sumba, dirinya banyak belajar dari operator yang juga dikirim PLN untuk menerapkan standar yang berlaku sesuai dengan undang-undang.

Bahkan, penghasilannya pun sebagai operator meningkat drastis dari Rp600 ribu menjadi Rp2,2 juta sesuai dengan standar. Jika kerja sama interkoneksi tersebut berakhir, masyarakat Kemanggih yakin dapat berjalan sendiri karena sumber daya manusia yang mereka miliki sudah menyerap cukup ilmu.

“Saya yakin sekali, sekarang ada tiga operator yang ahli listrik di desa ini,” sambung Ketua Koperasi Jada Peduli Kasih Umbu Hinggu Paujanji saat ditemui dalam kesempatan sama.

Menurut dia, hadirnya PLTMH turut mengubah kualitas hidup masyarakat Kemanggih. Selain kelistrikan, industri seperti mebel jadi muncul dengan adanya listrik. Ada pula industri tenun di kampung itu yang dapat berproduksi hingga malam hari.

Selain industri, Umu menyatakan terdapat peningkatan kualitas dalam pertemuan warga yang digelar. Penggunaan mikrofon yang diterapkan sejak adanya listrik membuat penyerapan informasi dalam rapat menjadi maksimal.

“Kalau dulu dalam rapat yang dihadiri 100 kepala, paling hanya 20 orang yang dengar. Sekarang dengan 100 orang yang mendengarkan, berarti ada 100 ide juga yang bermunculan dalam rapat,” tutup Umbu. (Media Indonesia)

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/energi/Dkqj2v4K-berkat-energi-baru-terbarukan-mendadak-jadi-ahli-listrik