biogas

Sumba Timur – Tinggal di pelosok daerah membuat warga Desa Kamanggih, Sumba Timur kreatif. Salah satunya, mengolah kotoran ternak untuk dimanfaatkan menjadi biogas.

“Saya sudah dua tahun ini masak pakai biogas, apinya biru seperti pakai elpiji,” ujar Agustina, warga Desa Kemanggih, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ketika dikunjungi Menteri ESDM Sudirman Said, Rabu (8/4/2015).

Agustina yang akrab disapa Ina menceritakan, warga desanya termasuk dia sendiri banyak memelihara sapi, ada juga kuda, kambing, hingga babi.

Sampai sekarang pun, kalau berkunjung ke desa ini di setiap jalan banyak sekali kotoran hewan, baik sapi sampai kuda. Tidak jarang, banyaknya kotoran hewan ini menimbulkan penyakit, seperti diare, karena lingkungannya kurang sehat.

“Pada 2011, pemerintah (melalui Ditjen EBTKE Kementerian ESDM) dan Hivos (lembaga non pemerintah dari Belanda), melakukan penyuluhan memanfaatkan kotoran hewan ini untuk dijadikan biogas. Bagaimana cara mengolah dan menggunakannya. Karena kami awalnya juga tidak tahu, kok bisa kotoran hewan bisa jadi gas untuk masak,” ucapnya.

Bersama-sama, kata Ina, warga diajarkan bagaimana membuat bak penampungan yang dipendam di dalam tanah, memasang instalasi pipa gas sampai ke dapur dan langsung terhubung ke kompor untuk memasak.

“Bak penampungannya ditutup rapat agar gas nggak keluar. Lalu ada dua keran, pertama keran di bak penampungan, agar gas keluar bisa disesuaikan dengan kebutuhan, lalu keran gas dekat kompor,” ungkapnya.

biogas_2

Ina menambahkan, setelah kotoran hewan dimasukkan ke dalam bak penampungan, kotoran ini membusuk dan mengeluarkan gas. Kemudian gas ini disalurkan ke pipa. Setiap hari ditambah satu ember kotoran sapi, ditambah juga kotoran dari kandang babi yang tinggal disiram kandangnya, lalu kotorannya masuk ke saluran pembuangan dan masuk ke bak penampungan juga.

Beberapa warga di Desa Kamanggih juga sekarang mencoba menggunakan kotoran manusia (tinja) dari wc beberapa rumah. Tinjanya disalurkan ke dalam satu bak penampungan, tapi saat ini masih dalam proses konstruksi.

“Walau dari kotoran hewan, gas yang keluar tidak menimbulkan bau atau mempengaruhi rasa dari masakan,” ujarnya.

Rombongan, mulai dari Menteri ESDM Sudirman Said, Dirjen EBTKE Rida Mulyana, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Sekda Sumba Timur, PLN, Bank BNI, dan wartawan juga dijamu hidangan yang dimasak menggunakan biogas oleh Ina dan warga sekitar, mulai dari singkong goreng, jagung rebus, roti, dan masakan tradisional khas Sumba. Rasanya enak, dan tidak ada bau seperti yang ada dalam pikiran.

“Kami juga memanfaatkan limbah kotoran biogas yang sudah lama untuk pupuk di kebun. Hasilnya tanaman jagung, labu, dan sayur mayur lainnya tumbuh subur, buahnya besar-besar,” katanya.

Bahkan sebagian warga yang menggunakan biogas di Desa Kamanggih, juga memanfaatkan biogas untuk lampu penerangan. Sistemnya seperti lampu petromax.

“Jadi masak tidak lagi pakai kayu bakar, tidak keluar biaya lagi, bebas masak kapan saja, kalau indikator gasnya mau habis, tinggal buka keran di dekat bak penampungan gasnya bertambah, malam hari rumah juga terang,” tutupnya.

Ina menambahkan, saat ini sudah 20 rumah di Desa Kamanggih menggunakan biogas. Warga di Desa ini hidupnya berpencar-pencar, beberapa kilometer ada berkumpul beberapa yang jumlahnya sekitar 10-30 rumah, beberapa kilometer lagi baru ada rumah-rumah warga lagi.

“Semakin banyak kotorannya yang masuk maka semakin banyak gasnya. Tapi ingat nggal boleh masuk deterjen atau sabun, kalau masuk bahan itu, gasnya hilang,” tutupnya.

Rista Rama Dhany – detikfinance Rabu, 08/04/2015 13:06 WIB
http://finance.detik.com/read/2015/04/08/130630/2881236/1034/begini-cara-warga-sumba- manfaatkan-kotoran-hewan-jadi-gas-untuk-masak%5B4/8