Pulau Sumba dipilih sebagai pulau ikonik berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hivos dan Winrock pada tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumba dengan populasi berjumlah 656.259 penduduk (2010) memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Air, surya, angin dan biogas (dari hewan) merupakan sumber energi yang telah teridentifikasi namun belum termanfaatkan secara maksimal.

Meskipun sumber-sumber Energi Terbarukan yang ditemukan berlimpah, seperti halnya dengan pulau-pulau lain, pengembangan energi terbarukan di Pulau Sumba masih sangat terbatas dalam hal pertumbuhan dan kapasitas dibandingkan dengan diesel berbahan bakar pembangkit listrik yang masih merupakan sumber utama tenaga listrik.

Energi Baru Terbarukan

Sumba-Slide-EBT1Slide thumbnail
Sumba-Slide-EBT2Slide thumbnail
Sumba-Slide-EBT3Slide thumbnail
Sumba-Slide-EBT4Slide thumbnail
Sumba-Slide-EBT5Slide thumbnail

Sumba memiliki dua sistem jaringan utama, Waikabubak dan Waingapu. Total beban puncak sistem Waingapu dan Waikabubak bersama-sama berjumlah sekitar 5,5MW dengan beban dasar 2.5MW. Permintaan energi di pulau yang minim listrik ini meningkat sejalan dengan perkembangan ekonomi regional dan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan informasi PLN, kebutuhan listrik di Waingapu dan Waikabubak telah tumbuh dengan 6% dan 8% per tahun masing-masing.

Pada tahun 2014 ADB/Castlerock melakukan studi tentang Energy Resources for Grid Supply & Electricity Demand Analysis for Sumba. Laporan ini menganalisa potensi teknis sumber energi baru terbarukan di Sumba termasuk sumber air (arus sungai, waduk dan pompa air), biomassa, energi surya, dan energi bayu dikaitkan sebagai input bagi pengembangan pembangkit yang paling murah (least cost) yang bertujuan untuk mengoptimalkan kombinasi dari beberapa sumber energi untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik pada masa mendatang di Sumba.

Peta Potensi EBT Sumba

Hasil studi ini juga untuk memperbarui dokumen tentang kondisi saat ini di Sumba guna pengembangan sumber-sumber energi yang tersedia sebagai bagian dari kombinasi biaya yang termurah (least-cost mix); dan untuk menentukan kemauan membayar dari rumah tangga untuk energi listrik, sebagai input dalam mendesain harga dan mekanisme subsidi, terutama untuk rumah tangga yang akan dilayani oleh pembangkit listrik non-jaringan (off-grid).